Piala Dunia 2026: Asia Pesta Gol, Eropa KagetUnset
1 8 menit

Piala Dunia 2026: Asia Pesta Gol, Eropa Kaget

M. Rifqi Daffa Aditya

1479 kata

Piala Dunia 2026 menghadirkan 9 negara Asia terbanyak sepanjang sejarah. Jepang menceracau Tunisia 4-0. Asia bukan lagi tim pelengkap.

Piala Dunia 2026: Asia Pesta Gol, Eropa Kaget

Piala Dunia 2026 di AS, Kanada, dan Meksiko bukan sekadar turnamen bola biasa. Ini edisi pertama dengan 48 tim, dan untuk pertama kalinya, sembilan negara Asia tampil bersamaan. Jepang, Korea Selatan, Iran, Arab Saudi, Australia, Qatar, Irak, Yordania, dan Uzbekistan semuanya berlaga. Jumlah ini mengalahkan rekor sebelumnya: delapan tim di Piala Dunia 2022 Qatar.

Angka itu sendiri sudah berbicara. Tapi yang lebih menarik bukan sekadar kuantitas. Wakil Asia di turnamen ini menunjukkan penampilan yang bikin pengamat kelas berat geleng-geleng. Jepang membantai Tunisia empat gol tanpa balas. Qatar menahan imbang Swiss. Australia mengalahkan Paraguay. Bahkan Curacao, debutan dari Karibia yang masuk grup sama dengan Jerman, berhasil bikin Ekuador frustasi dengan skor kacamata.

Bagi penggemar sepak bola Asia, ini bukan mimpi. Ini kenyataan yang terjadi di lapangan hijau Piala Dunia 2026, dan isyaratnya jelas: dominasi Eropa dan Amerika Latin di panggung terbesar sepak bola dunia sudah tidak bisa dianggap remeh.

Rekor Partisipasi: 9 Tim Asia di Piala Dunia

Sebelum edisi 2026, jumlah maksimal tim Asia di Piala Dunia adalah delapan. Itu terjadi di 2002 (Korea-Jepang sebagai tuan rumah) dan 2022 (Qatar). Sekarang, dengan format 48 tim, Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) mengirim sembilan wakil. Ini bukan hadiah dari FIFA. Mereka lolos lewat jalur kualifikasi ketat yang berlangsung selama hampir dua tahun.

Jepang dan Korea Selatan menjadi unggulan utama. Keduanya sudah berpengalaman di putaran final. Jepang datang ke turnamen ini dengan prediksi Opta Supercomputer menempatkan mereka di peringkat ke-17 dari 48 tim, dengan peluang 76,2 persen lolos dari fase grup. Korea Selatan di peringkat 25, dengan peluang lolos 70,1 persen. Iran, peringkat 20 FIFA, juga punya peluang 64,3 persen meskipun rekor mereka di fase grup selalu buruk — dari tujuh penampilan, belum pernah lolos grup.

Yang menarik adalah kehadiran debutan. Uzbekistan, Yordania, dan bahkan negara-negara seperti Irak dan Qatar yang jarang diperhitungkan, kini punya kesempatan tampil di panggung dunia. Uzbekistan bahkan dijagokan oleh beberapa pengamat sebagai kuda hitam karena investasi pemerintah mereka yang serius di bidang pembinaan usia muda. Pemain bintang mereka, Abdukodir Khusanov dari Manchester City, punya nilai pasar tertinggi di antara seluruh pemain Asia di turnamen ini.

Jepang 4-0 Tunisia: Pesta Gol Pertama Asia

Laga Tunisia versus Jepang di Estadio BBVA, Guadalupe, pada 21 Juni 2026 jadi momen yang sulit dilupakan. Jepang tampil dominant dari peluit pertama. Daichi Kamada membuka keb gol di menit ke-4. Ayase Ueda, striker Feyenoord yang musim ini tajam di Eredivisie, menggandakan keunggulan di menit ke-31. Junya Ito menambah di menit ke-69, dan Ueda menutup pesta dengan gol keduanya di menit ke-83.

Skor 4-0 untuk Jepang. Ini menjadikan mereka tim AFC pertama yang mencetak empat gol dalam satu pertandingan Piala Dunia. Catatan itu sendiri sudah menunjukkan betapa berbedanya level permainan Jepang dibandingkan edisi-edisi sebelumnya. Mereka bukan lagi sekadar tim yang bertahan dan mengandalkan serangan balik. Mereka bermain menekan, menguasai bola, dan mencetak gol dari berbagai posisi.

Pelatih Hajime Moriyasu setelah pertandingan bilang sesuatu yang menarik: "Dulu, ekspektasi adalah kami akan kalah. Sekarang, tidak ada yang tahu. Menurut saya tidak masalah jika kami menetapkan target menjadi juara dunia." Kalimat itu mungkin terdengar berani, tapi data mendukungnya. Jepang mencetak 51 gol di fase kualifikasi dengan konversi tembakan ke gol sebesar 21,1 persen. Mereka juga punya rekor sundulan terbanyak (12 gol) dan umpan silang efektif 25,3 persen. Formasi tiga bek yang mereka pakai memberikan fleksibilitas serangan yang sulit dibaca lawan.

Korea Selatan, Iran, dan Qatar: Jejak Wakil Asia Lain

Jepang bukan satu-satunya wakil Asia yang bikin heboh. Korea Selatan, meskipun baru mengumpulkan tiga poin dari dua pertandingan, tetap jadi ancaman serius di Grup A. Mereka berada di bawah Meksiko yang sudah lolos, tapi pengalaman 11 penampilan beruntun di Piala Dunia tidak bisa dianggap enteng. Son Heung-min, Kim Min-jae, dan Lee Kang-in masih jadi pemain yang ditakuti.

Qatar juga menarik perhatian. Piala Dunia 2022 mereka berakhir buruk sebagai tuan rumah yang kalah di pertandingan pembuka. Tapi di edisi ini, mereka menahan imbang Swiss di Grup B. Gaya bermain Qatar yang agresif, dengan rata-rata 3,6 gol per pertandingan di kualifikasi, mulai menunjukkan dampaknya di turnamen sesungguhnya. Meskipun peluang lolos mereka hanya 43,5 persen menurut Opta, penampilan melawan Swiss membuktikan mereka layak berada di sana.

Iran, tim dengan peringkat tertinggi kedua dari Asia di belakang Jepang, menghadapi tantangan berbeda. Belum pernah lolos dari fase grup dalam tujuh penampilan. Masalah visa dan akses ke AS membuat mereka harus bermarkas di Tijuana, Meksiko. Tapi peringkat FIFA ke-20 menunjukkan kualitas yang mereka miliki. Pertandingan melawan Belgia yang berakhir imbang 0-0 di matchday kedua menunjukkan Iran bisa bertahan melawan tim manapun.

Kenapa Asia Mulai Diseriusi di Piala Dunia

Ada alasan kenapa performa Asia di Piala Dunia 2026 ini berbeda. Pertama, investasi jangka panjang. Jepang sudah membangun sistem pembinaan sejak 1990-an, dan sekarang hasilnya terlihat. Pemain Jepang bermain di liga-liga top Eropa: Takefusa Kubo di Real Sociedad, Wataru Endo di Liverpool, Ayase Ueda di Feyenoord. Mereka tidak sekadar bermain di Eropa, mereka jadi pemain inti.

Kedua, perubahan taktik. Tim-tim Asia tidak lagi bermain defensif murni. Jepang beralih ke formasi tiga bek dengan serangan sayap yang efektif. Korea Selatan mengandalkan kecepatan transisi. Iran memadukan soliditas bertahan dengan kecepatan serangan balik. Perubahan ini membuat mereka sulit diprediksi oleh lawan-lawan yang terbiasa menghadapi gaya bermain konvensional.

Ketiga, keberanian untuk menang. Moriyasu bilang target Jepang adalah juara dunia. Itu bukan sekadar motivasi. Itu cerminan dari perubahan mentalitas. Tim-tim Asia dulu datang ke Piala Dunia untuk "belajar" atau "berpengalaman." Sekarang, mereka datang untuk menang. Dan Tunisia 0-4 Jepang adalah bukti nyata dari perubahan mentalitas itu.

Pengamat sepak bola Akmal Marhali bilang: "Jepang sudah membuktikan bisa mengalahkan Jerman, Spanyol, Brasil. Perkembangan Jepang sangat luar biasa." Sementara Anton Sanjoyo menambahkan: "Yang mampu bersaing dengan Eropa dan Amerika Latin adalah Korea dan Jepang. Uzbekistan berpotensi kejutan karena investasi pemerintah serius."

Studi Kasus 1: Uzbekistan dan Model Pembinaan Baru

Uzbekistan masuk Piala Dunia 2026 sebagai debutan, tapi bukan tim ecek-ecek. Mereka punya pelatih Fabio Cannavaro, mantan pemain terbaik dunia. Pemain bintang mereka, Abdukodir Khusanov, bermain di Manchester City dan punya nilai pasar tertinggi di antara pemain Asia. Di level usia muda, Uzbekistan sudah juara Piala Asia U-20 (2023) dan U-17 (2025). Investasi pemerintah Uzbekistan di infrastruktur dan pembinaan pemuda selama satu dekade terakhir akhirnya membuah hasil. Mereka masuk Grup G, dan meskipun peluang lolos Opta hanya 41,8 persen, kehadiran mereka di turnamen ini sudah jadi kemenangan tersendiri bagi sepak bola Asia Tengah.

Studi Kasus 2: Jepang dan Transisi ke Formasi 3 Bek

Keputusan Moriyasu beralih ke formasi tiga bek sejak 2023 terbukti brilian. Dalam kualifikasi, Jepang mencetak 51 gol, jumlah terbanyak di antara semua tim Asia. Umpan silang mereka punya tingkat keberhasilan 25,3 persen, dan 12 gol datang dari sundulan. Formasi ini memungkinkan bek sayap naik menyerang tanpa mengorbankan keamanan di belakang. Takefusa Kubo beroperasi sebagai gelandang serang bebas, sementara Ueda jadi finishing machine di depan. Luka cedera Kaoru Mitoma dari Brighton memang kerugian besar, tapi kedalaman skuad Jepang memungkinkan mereka tetap kompetitif tanpa satu pemain kunci.

Kesimpulan: Asia Bukan Lagi Tamu di Piala Dunia

Piala Dunia 2026 mencatat banyak hal. Format baru dengan 48 tim memberikan ruang lebih banyak untuk negara-negara yang sebelumnya sulit lolos. Tapi cerita terbesarnya bukan soal format. Cerita terbesarnya adalah bagaimana Asia berubah dari penonton menjadi aktor utama.

Sembilan negara Asia di turnamen ini bukan sekadar jumlah rekor. Mereka datang dengan kualitas. Jepang 4-0 Tunisia. Qatar tahan imbang Swiss. Iran tahan imbang Belgia. Uzbekistan debut tanpa takut. Ini bukan kebetulan. Ini hasil dari investasi puluhan tahun di pembinaan pemuda, profesionalisasi liga domestik, dan pengiriman pemain terbaik ke liga-liga Eropa.

Tentang prediksi juara dunia, Asia masih belum masuk 10 besar menurut Opta. Spanyol di 16,1 persen, Prancis di 13,0 persen, Inggris di 11,2 persen. Tapi siapa yang menyangka Jepang bisa hancurkan Tunisia empat gol? Siapa yang menyangka Curacao debutan bisa bikin Ekuador frustrasi? Di Piala Dunia, selalu ada ruang untuk kejutan. Dan tahun ini, kejutan itu datang dari timur.

FAQ Piala Dunia 2026: Pertanyaan yang Sering Ditanyakan

Berapa jumlah tim Asia di Piala Dunia 2026?

Sembilan tim Asia tampil di Piala Dunia 2026: Jepang, Korea Selatan, Iran, Arab Saudi, Australia, Qatar, Irak, Yordania, dan Uzbekistan. Ini jumlah terbanyak sepanjang sejarah keikutsertaan AFC di putaran final Piala Dunia.

Bagaimana peluang Jepang juara di Piala Dunia 2026?

Menurut prediksi Opta Supercomputer, Jepang punya peluang 1,2 persen untuk juara dunia. Angka ini kecil dibandingkan Spanyol (16,1%) atau Prancis (13,0%), tapi Jepang menempati peringkat ke-17 dari 48 tim secara keseluruhan, tertinggi di antara seluruh wakil Asia. Peluang lolos grup mereka juga besar: 76,2 persen.

Siapa pemain Asia paling berpengaruh di Piala Dunia 2026?

Ayase Ueda dari Jepang jadi salah satu bintang turnamen dengan brace melawan Tunisia. Takefusa Kubo (Real Sociedad) dan Son Heung-min (Korea Selatan) juga tampil menonjol. Dari sisi nilai pasar, Abdukodir Khusanov dari Uzbekistan yang bermain di Manchester City punya nilai tertinggi di antara pemain Asia.

Artikel Terkait