UnsetPrabowo Ungkap Biang Kerok Pelemahan Rupiah 2026
M. Rifqi Daffa Aditya
1023 kata
Prabowo Ungkap Biang Kerok Pelemahan Rupiah 2026
Nilai tukar rupiah terus turun terhadap dolar AS sepanjang pertengahan 2026. Pada 23 Juni, kurs rupiah ditutup di Rp17.859 per dolar AS. Sebelumnya sempat tembus Rp18.000. Pelemahan ini membuat banyak orang khawatir—pelaku usaha, investor, dan kelas menengah yang langsung merasakan kenaikan harga kebutuhan sehari-hari.
Presiden Prabowo Subianto buka suara di Bangkalan, Madura, 23 Juni 2026. Dalam pidato penutupan Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar NU, ia blak-blakan soal penyebab sebenarnya. Akar masalah, kata dia, bukan terletak pada perdagangan internasional. Tapi pada kebocoran kekayaan negara yang sudah berlangsung puluhan tahun.
Angka yang dipaparkan langsung jadi perbincangan. Kerugian negara dari under-invoicing mencapai US$908 miliar selama 34 tahun, atau Rp15.000 triliun. Ini mengubah narasi yang selama ini berkembang: bahwa pelemahan rupiah 2026 semata-mata karena penguatan dolar AS dan ketegangan geopolitik.
Kebocoran Kekayaan: Data Prabowo yang Mengagetkan
Prabowo merujuk data Dewan Ekonomi Nasional yang bersumber dari PBB. Selama 22 tahun, Indonesia sebenarnya untung dari perdagangan: US$436 miliar. Tapi dalam periode yang sama, US$343 miliar keluar lagi. Hanya sedikit yang tinggal di dalam negeri.
Praktik under-invoicing jadi biang keroknya. Eksportir nakal melaporkan jumlah lebih rendah dari aslinya. Ekspor riil 1.000 ton, yang dilaporkan cuma 500 ton. Selisihnya disimpan di luar negeri, tidak melalui sistem perbankan nasional. Total kerugian dari praktik ini: US$908 miliar dalam 34 tahun.
Pemerintah memperkirakan kebocoran tahunan Rp2.500 triliun. Prabowo pakai analogi sederhana: seperti tubuh yang kehilangan darah setiap hari. Ujungnya kolaps. Begitu pula ekonomi Indonesia. Data ini sekaligus menjawab pertanyaan publik: kenapa gaji guru dan PNS sulit naik? Kenapa anggaran pembangunan selalu kurang? Karena uangnya terus bocor.
Ini bukti bahwa kebocoran fiskal akibat under-invoicing lebih berbahaya dari fluktuasi pasar global. Negara kehilangan pendapatan yang seharusnya bisa dipakai untuk pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur.
Mekanisme Under-Invoicing dan Dampaknya ke Nilai Tukar
Under-invoicing sederhananya begini: eksportir menjual barang Rp100 miliar, tapi laporan ke negara cuma Rp50 miliar. Tujuannya jelas—menghindari pajak dan menyembunyikan devisa di luar negeri. Praktik ini sudah berlangsung puluhan tahun dan sulit diberantas karena melibatkan jaringan lintas negara.
Dampak ke nilai tukar langsung terasa. Devisa yang seharusnya masuk ke Indonesia dan memperkuat cadangan Bank Indonesia, malah mengendap di luar. Pasokan dolar AS di dalam negeri berkurang, permintaan tetap tinggi. Kurs rupiah terus tertekan.
Lukman Leong, analis Doo Financial Futures, bilang tekanan eksternal turut memperburuk. Ketidakpastian damai AS-Iran, suku bunga The Fed, dan penguatan indeks dolar AS membuat nilai tukar rupiah makin rentan. Tapi data Prabowo menunjukkan faktor internal—under-invoicing—punya dampak jangka panjang yang lebih besar.
Perbandingannya sederhana. Kalau devisa hasil ekspor mengalir penuh ke Indonesia, cadangan dolar AS meningkat, rupiah punya fondasi lebih kuat. Sebaliknya, kebocoran terus-menerus bikin intervensi BI kurang efektif. Dolar yang keluar jauh lebih besar dari yang bisa distabilkan.
Dampak Pelemahan Rupiah ke Masyarakat dan Dunia Usaha
Pelemahan rupiah bukan sekadar angka. Dampaknya nyata di kehidupan sehari-hari. Harga bahan baku impor naik, biaya produksi membengkak, harga barang konsumen ikut terkerek.
Menurut BBC Indonesia, 70% bahan baku industri masih impor. Produsen makanan, tekstil, dan barang konsumsi dihadapkan pada pilihan sulit: naikkan harga atau perkecil ukuran produk. Banyak yang pilih opsi kedua demi menjaga daya beli konsumen yang sudah tergerus.
Perajin Tahu di Semarang
Joko Wiyatno, perajin tahu di Semarang, merasakan langsung dampaknya. Harga kedelai impor naik dari Rp7.000 per kg jadi Rp10.500. Plastik naik 100%, minyak goreng naik 25%. Ia tidak bisa menaikkan harga jual—daya beli pelanggan turun drastis. Solusinya: bikin tahu lebih tipis dan kecil. Strategi bertahan yang marginnya terus menipis.
Pengrajin Tempe di Makassar
Sururi, pengrajin tempe di Makassar, bernasib sama. Harga kedelai naik sejak konflik AS-Israel-Iran memicu lonjakan harga komoditas global. Ia beli kedelai Rp11.000 per kg, jual tempe Rp5.000 per potong. Ukuran tempe dipotong lebih kecil. "Kalau saya kasih naik harganya pasti konsumen lari ke tempat yang lain," katanya.
Bhima Yudhistira dari Celios memperingatkan bahwa sekitar 2 juta orang berpotensi turun kelas dalam setahun ke depan. Data Kemenaker mencatat 15.425 pekerja kena PHK pada Januari-April 2026. Sektor informal yang menyerap 59% tenaga kerja tidak punya perlindungan sosial yang memadai.
Langkah Pemerintah dan Bank Indonesia
Pemerintah bilang sedang membenahi kebocoran. Langkah pertama: menertibkan under-invoicing lewat pengawasan ketat laporan ekspor. Satuan tugas khusus dibentuk untuk mengaudit perusahaan mencurigakan.
Bank Indonesia mengambil jalur moneter. Tujuh langkah stabilisasi dikeluarkan: intervensi valas di dalam dan luar negeri, penerbitan SRBI untuk menarik modal asing, pembelian SBN di pasar sekunder, pengawasan ketat pembelian dolar oleh bank dan korporasi. Perry Warjiyo, Gubernur BI, bilang pengawas langsung dikirim ke bank dengan aktivitas pembelian dolar tinggi.
Kementerian Keuangan mengaktifkan Bond Stabilization Fund untuk jaga stabilitas pasar SBN. Ini penting karena tekanan ke rupiah biasanya diikuti aksi jual obligasi oleh investor asing. Kalau pasar SBN stabil, tekanan ke nilai tukar bisa berkurang.
Tapi para ekonom mengingatkan: semua ini cuma sementara jika akar masalah—kebocoran—tidak dituntaskan. Pengawasan ekspor dan penegakan hukum jadi kunci. Tanpa itu, intervensi moneter hanya seperti numpang nambal bocoran tanpa stop sumbernya.
Kesimpulan
Prabowo membuka tabir penyebab pelemahan rupiah yang jarang dibahas terbuka. Under-invoicing dan capital flight menggerus kekayaan nasional selama puluhan tahun. Dengan kebocoran Rp2.500 triliun per tahun, wajar APBN selalu kekurangan dana untuk program prioritas.
Solusi jangka panjang butuh reformasi sistemik: digitalisasi pelaporan ekspor, pengawasan ketat arus devisa, penegakan hukum tegas. Jika kebocoran bisa ditekan, rupiah punya fondasi kuat untuk stabil tanpa harus bergantung pada intervensi terus-menerus. Pertanyaannya sekarang: seberapa serius pemerintah menindaklanjuti?
FAQ Seputar Pelemahan Rupiah 2026
Apa penyebab utama pelemahan rupiah di tahun 2026?
Penyebab utama adalah kebocoran kekayaan nasional lewat under-invoicing. Devisa hasil ekspor tidak masuk ke Indonesia. Faktor eksternal seperti penguatan dolar AS dan konflik geopolitik memperburuk, tapi faktor internal ini yang paling dominan menurut data Dewan Ekonomi Nasional.
Berapa kerugian negara akibat under-invoicing?
Berdasarkan data PBB yang dipaparkan Presiden Prabowo, kerugian mencapai US$908 miliar selama 34 tahun—setara Rp15.000 triliun. Pemerintah memperkirakan kebocoran tahunan Rp2.500 triliun.
Apa dampak pelemahan rupiah terhadap harga kebutuhan pokok?
Pelemahan rupiah membuat harga bahan baku impor naik, yang kemudian mendorong kenaikan harga produk konsumen. Contoh paling nyata: kenaikan harga kedelai berdampak langsung ke harga tahu dan tempe. Produsen terpaksa menaikkan harga atau mengurangi ukuran produk untuk bertahan.


