KemanusiaanSumatra Berduka: Banjir Bandang dan Longsor Dahsyat Akhir 2025
M. Rifqi Daffa Aditya
440 kata
Desember 2025 — Pulau Sumatra sedang menghadapi salah satu bencana hidrometeorologi terburuk dalam beberapa dekade terakhir. Sejak akhir November hingga pertengahan Desember 2025, serangkaian banjir bandang dan tanah longsor meluluhlantakkan tiga provinsi sekaligus: Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat.
Bencana ini tidak hanya menghancurkan infrastruktur, tetapi juga menelan korban jiwa dalam jumlah yang sangat besar, memicu status tanggap darurat nasional.
Kronologi dan Wilayah Terdampak
Bencana bermula dari curah hujan ekstrem yang dipicu oleh aktivitas atmosfer tak biasa, termasuk pengaruh Siklon Tropis Senyar, yang menghantam wilayah barat Indonesia pada akhir November 2025. Hujan yang turun tanpa henti selama berhari-hari menyebabkan sungai-sungai besar meluap dan tanah di perbukitan menjadi jenuh air.
Wilayah yang mengalami dampak terparah meliputi:
- Aceh: Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh Timur, dan Aceh Utara.
- Sumatra Utara: Tapanuli Tengah, Tapanuli Utara, Tapanuli Selatan, dan Sibolga.
- Sumatra Barat: Kabupaten Agam, Tanah Datar, dan sebagian wilayah Kota Padang.
Dampak Kemanusiaan: Angka Korban yang Mengejutkan
Data dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per 13 Desember 2025 menunjukkan angka korban yang memprihatinkan:
- Korban Jiwa: Lebih dari 1.000 orang dilaporkan meninggal dunia di ketiga provinsi tersebut.
- Hilang: Ratusan orang masih dinyatakan hilang, diduga tertimbun material longsor atau terseret arus deras banjir bandang.
- Pengungsi: Ratusan ribu warga terpaksa mengungsi di tenda-tenda darurat, gedung sekolah, dan tempat ibadah karena rumah mereka hancur atau terendam lumpur.
Penyebab: "Dosa Ekologis" dan Cuaca Ekstrem
Para ahli menilai bencana ini adalah hasil dari kombinasi dua faktor mematikan:
- Faktor Alam: Curah hujan dengan intensitas di atas normal akibat anomali cuaca.
- Faktor Manusia (Kerusakan Lingkungan): Degradasi hutan di wilayah hulu Daerah Aliran Sungai (DAS) menjadi sorotan utama. Deforestasi, alih fungsi lahan menjadi perkebunan, dan pertambangan ilegal telah menghilangkan kemampuan tanah untuk menyerap air.
Seperti yang disebutkan oleh beberapa pakar lingkungan, hutan yang seharusnya berfungsi sebagai "spons alami" kini telah hilang, sehingga air hujan langsung meluncur deras ke pemukiman di dataran rendah dengan membawa material batu dan kayu gelondongan.
Tantangan Penanganan dan Pemulihan
Upaya penanganan darurat menghadapi tantangan berat. Akses jalan nasional yang menghubungkan antar-provinsi sempat putus total di beberapa titik akibat longsoran tebing. Jaringan listrik dan telekomunikasi di wilayah terisolir seperti Tapanuli dan pedalaman Aceh juga mengalami kerusakan parah, menyulitkan koordinasi tim SAR gabungan.
Pemerintah pusat melalui BNPB, TNI, dan Polri terus mengerahkan alat berat dan helikopter untuk mendistribusikan logistik ke daerah yang terisolasi. Fokus utama saat ini adalah pencarian korban hilang, pemulihan akses jalan, dan pencegahan wabah penyakit di pengungsian.
Refleksi
Tragedi akhir 2025 ini menjadi peringatan keras bagi Indonesia. Bencana ini menegaskan bahwa mitigasi bencana bukan hanya soal tanggap darurat setelah kejadian, tetapi juga soal pemulihan ekologi. Tanpa perbaikan tata kelola lingkungan di wilayah hulu Sumatra, ancaman serupa akan terus mengintai di masa depan.
Saat ini, seluruh elemen bangsa bahu-membahu mengirimkan doa dan bantuan bagi saudara-saudara kita di Sumatra yang sedang berjuang untuk bangkit kembali.